Tokoh Muda Nabire Sebut Pernyataan Aibon Kogoya Keliru dan Provokatif Bagi Masyarakat OAP

- Penulis

Jumat, 13 Maret 2026 - 16:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nabire – Upaya memecah belah persatuan masyarakat adat melalui batasan geografis yang dilontarkan Panglima TPNPB-OPM Aibon Kogoya kini mendapat perlawanan sengit dari generasi muda Nabire, Papua Tengah.

Narasi yang mencoba memisahkan hak kelola alam antara warga pesisir dan pegunungan dianggap sebagai langkah mundur yang mengancam stabilitas harmoni sosial yang telah terjaga selama berabad-abad.

Tokoh Muda Kabupaten Nabire, Samuel Sauwyar, menyatakan keberatan atas pernyataan Aibon Kogoya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diketahui Aibon sebelumnya mengeluarkan peringatan keras yang melarang masyarakat pesisir masuk ke kawasan hutan untuk mencari emas maupun kayu gaharu.

Ia menebar ancaman akan adanya konsekuensi buruk bagi warga pantai yang beraktivitas di hutan.

“Narasi Aibon Kogoya ini bersifat diskriminatif dan berpotensi merusak ikatan persaudaraan sesama Orang Asli Papua (OAP),” tegas Samuel, Kamis (12/3/2026).

Samuel menegaskan bahwa identitas Papua bersifat tunggal dan tidak boleh dipisahkan berdasarkan letak tempat tinggal.

Baca Juga:  Aktivitas Warga Kembali Normal, Kepala Suku Yalimek Apresiasi Stabilitas Keamanan di Yahukimo

Sejarah mencatat bahwa masyarakat pantai dan pegunungan telah hidup berdampingan secara harmonis sejak zaman nenek moyang.

Hubungan fungsional melalui sistem barter dan perdagangan tradisional membuktikan bahwa ketergantungan antarwilayah adat adalah kekuatan utama Papua.

“Nah, nilai gotong royong inilah yang merupakan warisan leluhur yang harus dilindungi dari segala bentuk upaya polarisasi kelompok tertentu,” sebut Samuel.

Perbedaan mata pencaharian antara nelayan dan masyarakat hutan merupakan kekayaan budaya, bukan alasan untuk menciptakan sekat wilayah kekuasaan.

Larangan bagi warga pesisir untuk mengambil hasil hutan dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap hak asasi manusia dan hak ulayat yang inklusif.

Samuel mengingatkan bahwa setiap individu yang berpijak di tanah Papua memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga kedamaian dan ketertiban.(rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel nuansatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mantan Panglima TPNPB-OPM Wilayah Victoria Ajak Kelompok Bersenjata Kembali ke NKRI dan Dorong Dialog Damai di Papua
Tokoh Masyarakat Kampung Tagaloa Ajak Warga Jaga Keamanan Demi Kelancaran Pembangunan di Kabupaten Puncak
Tokoh Papua Pegunungan Ajak Warga Menahan Diri Pasca Konflik Antar Kelompok di Jayawijaya
Tokoh Pemuda Tembagapura Soroti Dampak Sosial Pasca Operasi Penindakan di Kali Kabur
Ketua Adat Papua Sdr. Yanto Eluay Ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas di Wilayah Papua dan Papua Tengah
Tokoh Pemuda Papua Ajak Warga Jayapura Bijak Sikapi Isu Dogiyai: Jangan Terprovokasi
Jaga Stabilitas Daerah, Lukas Haay Ajak Pemuda Papua Tetap Bersatu
Tokoh Masyarakat Puncak Jaya Serukan Perdamaian dan Persatuan Warga
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:55 WIB

Mantan Panglima TPNPB-OPM Wilayah Victoria Ajak Kelompok Bersenjata Kembali ke NKRI dan Dorong Dialog Damai di Papua

Jumat, 15 Mei 2026 - 18:48 WIB

Tokoh Masyarakat Kampung Tagaloa Ajak Warga Jaga Keamanan Demi Kelancaran Pembangunan di Kabupaten Puncak

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:34 WIB

Tokoh Papua Pegunungan Ajak Warga Menahan Diri Pasca Konflik Antar Kelompok di Jayawijaya

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:04 WIB

Tokoh Pemuda Tembagapura Soroti Dampak Sosial Pasca Operasi Penindakan di Kali Kabur

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:23 WIB

Ketua Adat Papua Sdr. Yanto Eluay Ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas di Wilayah Papua dan Papua Tengah

Berita Terbaru